senja itu tepatnya pukul enam aku dudukduduk dengan kawan dekatku
dibawah mentari, yang hampir tenggelam pula
bersama kawan, yang lama tinggal dalam hidupku,
setia,mengikutiku kemana pun aku pergi,
aku berlari dia berlari,aku jatuh dia ikut jatuh,
selalu begitu, mengikuti gerakanku,
tapi pabila seja telah datang ia tampak lebih tinggi dariku,,
ia sama sepertiku, bedanya ia hanya lebih gelap
sama seperti senja sebelumnya
, ia menekuk lututnya lebih rapat ke tubuhnya
sesekali di pipinya ada air mata
kutanyakan padanya, ‘kenapa lagi2 menangis’
kawanku itu menjawab,sambil terus mengikuti gerakanku
‘aku tidak menangis, aku sedang belajar,.
belajar menyesali waktu yang termakan oleh prilaku burukku
belajar mendakwa takdir yang tak rela ku impikan
belajar menyumpahi orang2 yang telah melibatkanku dengan dunia
belajar menertewakan kesuksesan yang ku sentuhpun tak pernah bisa
aku diam,dia pun begitu,
aku sesak dengan kata – kata nya
betapa bodoh dan kasihan sekali hidupnya
dengan suara yang lebih pelan aku bertanya lagi
‘lalu,untuk apa kau gunakan air matamu itu,ketika menyesali hidupmu.
bukankah keadaanmu yang buruk itu semakin buruk?
dia menatap tajam ke arahku,akupun begitu
‘salahkah? bila aku mensyukuri satu2nya nikmat tuhan yang tak pernah kusesali.
yaitu dengan menjatuhkan air mata?
dia menggeram,samar,suaranya sepertiku
by:azalia arisha aihara